Sejarah Waroeng Tung Tau

 

Ragam cerita terkandung dalam secangkir kopi. Mulai dari jenis, asal, pengolahan hingga siap tersaji. Kisah kali ini adalah tentang warung kopi, bagian yang sulit terpisahkan dari cerita kopi, dermaga para penikmat kopi melepas sauh dan berlabuh. Tapi cerita warung kopi tak hanya melulu terkait kopi. Warung kopi telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Tak sekedar datang untuk menikmati racikan kopi Arabica ataupun Robusta, di warung kopi orang-orang bertemu, berkumpul, berbagi kisah. Tak hanya yang semanis gula, terkadang terserak juga cerita getir sepahit kopi. Warung kopi menjadi saksi bisu nan setia. Menemani generasi ke generasi, kopi kian populer dengan ribuan varian produk olahannya. Sampai ke generasi milenial yang gemar nongkrong di warung kopi meski sejatinya mungkin saja bukan penikmat kopi.

Banyak warung kopi tradisional yang terhempas angin perubahan karena gagal mengikuti perkembangan jaman, terlindas persaingan atau memang karena kualitas dan tata kelola yang kurang baik. Sedikit yang masih bertahan hingga rentang waktu yang panjang, diteruskan dari generasi ke generasi. Satu dari sedikit yang istimewa itu adalah Kopitiam Tung Tau di Kota Sungailiat, Pulau Bangka, yang sudah berdiri sejak tahun 1938. Sampai sekarang di Sungailiat Kopitiam Tung Tau masih berada di lokasi yang sama (Jalan Muhidin No.87), meski bangunannya sudah mengalami beberapa kali perombakan. Tung Tau diambil dari nama pendirinya yaitu Fung Tung Tau.

Bangka pada masa itu sudah dikenal sebagai penghasil timah terbesar di dunia. Sebagian besar pekerja tambang saat itu didatangkan oleh Banka Tin Winning (BTW)–perusahaan tambang milik Belanda– dari Tiongkok. Para pekerja ini tersebar di area-area tambang yang dikenal dengan sebutan Parit, yang sebagian berada di sekitaran Sungailiat. Meskipun pada awalnya semua pekerja yang didatangkan itu terikat kontrak, tetapi mulai dari 1934 banyak yang “bebas” sebagai imbas kebijakan BTW menghadapi perekonomian dunia yang sedang mengalami depresi besar. Para pekerja yang tak terikat kontrak ini kemudian tak lagi menetap di kamp-kamp pekerja. Mereka menyebar, menetap, dan menekuni profesi lain di Bangka, Walaupun sebagian besar masih mengandalkan timah sebagai mata pencaharian.

Peluang inilah yang tampaknya berhasil ditangkap oleh Fung Tung Tau. Kopitiam yang didirikannya menjadi tempat berkumpul sebelum berangkat bekerja maupun setelah pulang bekerja. Pada pagi hari para pekerja mampir menyeruput nikmatnya kopi sambil sarapan. Kopi yang diseduh Tung Tau menjadi tenaga tambahan penyemangat bekerja. Bahkan, sore hari mereka mampir lagi untuk ngopi dan membeli makanan untuk dibawa pulang ke rumah. Kopitiam ini juga menjadi tempat favorit para penumpang yang menunggu kendaraan umum ke arah Belinyu. Bahkan sopir-sopir bus juga ikut nongkrong di sini.

Salah satu peninggalan yang beraroma Tionghoa adalah menu Kopi Pancung yang masih tersedia di Tung Tau Sungailiat. Pan Cung artinya setengah gelas. Biasanya dipesan oleh tamu yang tak punya banyak waktu untuk nongkrong di kopitiam, tapi membutuhkan suntikan energi dari seteguk kopi.

Sampai tahun 1980, kopitiam ini masih dikelola langsung oleh Fung Tung Tau. Karena masalah kesehatan, akhirnya tongkat estafet pengelolaan kopitiam diserahkan penuh kepada Budjang Bunawan. Sejak tahun 1950 Budjang sudah bergabung membantu di Kopitiam Tung Tau, saat ia masih berusia 12 tahun. Ia lalu mengelola Tung Tau bersama dengan istri tercinta Maria Matali. Tangan dingin Ibu Maria Matali berhasil mengembangkan Tung Tau tak sekedar menyajikan kopi dan kue-kue basah. Di Tung Tau tamu bisa menikmati menu nasi, mie, kwetiau kuah ikan, gado-gado, bahkan sup buntut. Tentu saja menu favorit seperti kopi dan roti panggang masih tetap menjadi andalan.

Mulai dari tahun 2010 Waroeng Tung Tau di Sungailiat ini dikelola oleh Tedy, putra bungsu dari pasangan Budjang Bunawan dan Maria Matali. Pada tahun 2011 Tung Tau melebarkan sayapnya ke Pangkalpinang, ibukota Propinsi Bangka Belitung dengan mendirikan cabang yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman. Cabang ini digawangi oleh Mariany, sang putri sulung. Hal ini didasari oleh banyaknya permintaan pelanggan yang ingin “lebih dekat” dengan Tung Tau. Ada pula yang ingin membawa Roti Panggang Khas Tung Tau sebagai oleh-oleh dari Bangka jika bepergian ke luar daerah.

Dengan tetap berpegang pada konsep bisnis keluarga, Waroeng Tung Tau tetap mempertahankan cita rasa resep-resep tradisional dari pendahulunya. Tak hanya sebagai tempat nostalgia pelanggan lama, tapi juga merangkul generasi baru. Tung Tau terus berkembang dan sekarang sudah memiliki 5 cabang. Di Pangkalpinang berada di Jalan Toniwen (pindahan dari Jl.Sudirman), Jl.Semabung, dan di Gabek. Dua lagi berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta dan di Bandara Depati Amir. Semua cabang kecuali yang berlokasi di Bandara, buka 24 jam.